Menghimpun Lalu Mengabarkan Untuk Bone yang Lebih Baik
Tampilkan postingan dengan label Sosbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosbud. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Banyak Orang Bone yang Hebat di Luar

Orang-orang Bone ternyata jauh lebih hebat ketika berada di luar daerahnya. Sebaliknya jika berada di tanah leluhurnya, tidak ada apa-apanya. Namun Bone baru bisa berkembang dan maju jika orang Bone yang hebat di luar itu, memberi kontribusi pemikiran ide guna menempatkan Bone lebih hebat lagi pada masa ini.

Demikian ditegaskan Bupati Bone, Dr. H. A. Fahsar M. Padjalangi, M.Si., ketika memberikan sambutan pada acara Halal bi Halal, Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB), selasa 12/08/2014 di Hotel Sahid Makassar. Pembawa hikmah, Dosen UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hamdan Djuhannis.

Acara Halal bi Halal ini turut dihadiri orang-orang Bone di Makassar diantaranya; Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) Sulsel, H. Andi Mualim, S.H., Andi Altin Noer, Prof. Dr. Andi Muin Fahmal, S.H., M.H.,  Dr. H. Ilham Arief Siradjuddin, M.M,. Drs. Andi Syahri Widjaya, M.M; Drs. Andi Mappamadeng Rukka, Drs. H. Rachmat Tjantring,M.M.

Ketua KKMB, H. Andi Muallim, S.H. Bersama dengan Bupati Bone, Dr. H. A. Fahsar M. Padjalangi, MSi., Dr. Ir. Ilham Arief Siradjuddin, M.M., Drs.H.A.Pahrum Pawi,M.T.P. dan tokoh masyarakat Bone lainnya. Hadir pula Prof. Dr. Syamsul Ridjal, MS. Pengurus KKMB Selayar, Ny. Hj. Norma Syahrir, KKMB Parepare, Drs. Tadjuddin Kammisi.

Sebagai informasi bahwa, Bone dikenal sebagai salah satu wilayah di Sulsel dengan professor lebih dari 100 oang. Potensi sumber daya manusia berkualitas asal Bone itu, akan lebih bagus jika mereka membagi-bagi kepintaran dan kecerdasan untuk menjadikan Bone semakin lebih maju dan diperhitungkan, ungkap Bupati Bone.

“Memacu kualitas pendidikan di Bone, tahun ini masyarakat Bone sudah mulai mengalami peningkatan, jika tahun-tahun sebelumnya hanya berada pada peringkat 18 maka tahun 2014, peringkat itu melaju naik pada rangking delapan Sulsel,” ungkap  H.A.Fahsar M.Padjalangi.

" APBD Kabupaten Bone  hanya sekitar  1,4 trilyun, dari jumlah tersebut,  900 milyar  dihabiskan untuk membayar gaji pegawai atau sekitar 68%  dan selebihnya  untuk membiayai pembangunan atau 500 milyar rupiah. “ ujar  bupati Bone. Dr.H.A.Fahsar M.Padjalangi, M.Si.

Acara berlangsung cukup dinamis dan diselingi dengan tawa, apalagi pembawa acara Abd. Rodjak, dalam sandiwara Petta Puang mengawal acara sampai akhir sekitar pukul 23.00 wita. selain itu juga tampil penari Bissu dari Bone.  Acara berlangsung sukses dan meriah berkat kerja keras dari para panitia Ketua dan Sekretaris, Prof. Dr. Farida Patitingi,S.H., M.Hum, Hj. Rusni Kasman, S.H,M.Kn. serta dukungan dari Sekretaris KKMB, Ir. H. Andi Bakti Haruni, CES dan panitia lainnya.

Oang-orang Bone di luar banyak berkiprah  dan  sukses di dunia pendidikan, politik, militer, pemerintahan, dan ekonomi  baik di dalam negeri maupun luar negeri . Jika mereka-mereka meluangkan waktu setahun sekali saja pulang dan melirik tanah leluhurnya maka niscaya Bone akan lebih maju dan berkembang seperti daerah lainnya. Hal ini merupakan tantangan KKMB (Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone). Iya, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi? (bone.go.id)

Rabu, 15 Agustus 2012

To Manurung dan To Tompo, Penelusuran Muasal Raja Bugis

Mungkin anda pernah bertanya perihal penduduk pertama di Sulawesi Selatan, tapi sampai saat ini belum ada rujukan yang bisa menjawab rasa penasarn anda tersebut. Para arif cendekia Sulawesi dari masa ke masa telah meninggalkan catatan hasil penelitian mereka. Semuanya untuk kita baca dan melanjutkan upaya pendalaman itu di masa kini agar tergambar jawaban yang entah mengakhiri penasaran anda atau semakin membuat untuk bertanya lebih jauh
………………………………………………………………………………
……………..

Syahdan, pada tahun 1972 pakar Van Heekeren mengemukakan pendapatnya, bahwa : Kemungkinan besar Sulawesi Selatan telah dihuni sejak pertengahan atau penghujung kala Pleistosen Akhir, yakni sekitar 50.000 hingga 30.000 tahun SM (Heekeren, Stone Age:66-72, kutipan Pelras C, Manusia Bugis ; 2006).

Kemudian pakar Mattulada menguraikan pula bahwa, penduduk purba Sulawesi Selatan selain berciri fisik Austro-Melanesoid dan Paleo-Mongoloid yang berlangsung dalam satu zaman, yaitu masa belum mengenal kepandaian bercocok tanam, yaitu kira-kira 11.000 tahun SM (Mattulada ; 1998).

Persebaran orang Austro-Melanesoid dari Pulau Irian ke kepulauan yang terletak di sebelah barat daya dan kembali menyebar ke pulau-pulau disebelah baratnya. Demikian pula halnya dengan persebaran orang Austro-Melanesoid yang di Pulau Jawa ke sebelah barat dan utara sampai ke Vietnam Utara. Arus sebaliknya terjadi pula pada penebaran Proto-Mongoloid dari Kepulauan Jepang melalui Riukyu, Taiwan dan Filipina yang selanjutnya ke Sulawesi. Kemudian terjadilah percampuran ras dan kebudayaan, maka itulah kiranya yang menjadi masyrakat pertama di Sulawesi Selatan yang terjadi antara tahun 1000 sampai tahun 2000 SM (Mattulada ; 1998).

Sekiranya kemudian ada yang menanyakan, ; “Siapakah nama nama manusia pertama di Sulawesi Selatan ?”. Wahai, kenapa terlalu jauh pertanyaannya ?, pasti demikianlah keluhku. Menanyakan penduduk pertama di Sulawesi Selatan, padahal “ayah kakek buyutnya sendiri belum tentu diketahuinya dan takkan pernah ditanyakannya”. Namun sudahlah, kiranya penuturan inipun akhirnya tiba pada perihal Tomanurung dan To Tompo, leluhur Raja-Raja di Sulawesi.

Hampir setiap kerajaan di Sulawesi memiliki kronik perihal berdirinya kerajaan dan raja/ratu pertamanya dan turunannya. Mereka yang adalah penguasa awal di negeri itu disebutnya sebagai “Tomanurung” (orang yang turun dari langit) atau pun “To Tompo” (orang yang muncul dari dunia bawah).

Mereka adalah para tokoh yang “disifatkan” sebagai “dewata” yang turun ataupun muncul ditengah masyarakat untuk mengakhiri masa kacau balau yang dikenal sebagai “SianrE BalE” (saling memakan bagai ikan). Maka hal ini, menurut hemat penulis, semoga kiranya berhubungan dengan sosok sebagaimana disebutkan Kitab Suci Al Qur’an sebagai “Ulul Albab” (peringatan bagi orang-orang yang berpikir). Bahwa Allah SWT berfirman : “Yu’til khikmata man yasyaa’, wa man yu’tal khikmata faqod uutiya khoiron katsiro, wa maa’ yazzakkaru illaa ulul ‘albaab” (QS. Al Baqarah ; 269), artinya : Dianugerahkan Al Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dikaruniai anugerah yang banyak. Dan hanya orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. Kiranya itu pula janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang berilmu pengetahuan.

Mereka para Ulul Albaab dalam kronik pada banyak negeri di Sulawesi Selatan itu menyebutkan banyak To Manurung dan To Tompo, diantaranya :

- La Toge’langi Batara Guru “La Mula Tau” Sunge’ ri Sompa Aji Sangkuruwirang, ManurungngE ri Tellampulaweng, Pajung ri Luwu I, menikah dengan We Nyilli’ Timo SolasinrangempEro Dinulu WElompEloja I Mata Timo, Tompo’E ri Bussa Empo,

- TurubElaE “Laurempessi” ri Coppo’mEru, ManurungngE ri Sawammegga, Datu Tompotikka I, menikah dengan We Padauleng, ManurungngE ri SingkiriwEro,

- Aji ri Sompa La Tenriangke’ Batara IlE ri Taliungna Langi ManurungngE ri Tellampulaweng, Datu Cina I (versi I La Galigo), menikah dengan We Tenri Bilang,

- Tejjo ri Sompa LettEmangkella I La Toliung Tompo’E Batara WEwang Sumange’rukka PajumpongaE ri WEwangriu, menilkah dengan ManurungngE Polaleng TojampulawengngE,

- La Raullangi To Sadangpotto ManurungngE ri Timpalaja, menikah dengan PolalengngE Ajuara Lallo ri Tungo,

- Simpurusiang ManurungngE ri Lompo, Datu Cina (pasca I La Galigo),

- Simpurusiang Salinrunglangi Mutia Kawa Opunna Ware’ ManurungngE ri Awo Lagading Pajung ri Luwu III, menikah dengan We Patyanjala Tompo’E ri Bussa Empo (pasca I La Galigo),

- La Matatikka Tompo’E ri Buakkajeng, menikah dengan Linge’ Manasa Ana’na MAnurungngE ri Sawitto,

- Pong Mulatau ri Rura,

- Tokombong di Wura’ menikah dengan To WissE di Tallang,

- Puang Tamboro Langi “Datu Matampu” To Matasa’ ri LEpongna Bulan Tomanurung ri Kandora’ menikah dengan Puang Sandabili’ Tumanurung ri Kairo,

- Puang Tandilino Tobanua Puang ri Sarumbano – Marinding,

- Puang ri Ranri’ Tumanurung ri Sanggalangi,

- AEng ri Massila Tumanurung ri Salu’putti,

- AEng ri SEsEan Tumanurung ri SEsEan,

- Batara Kassa’ Tumanurung ri Kassa’,

- Londo DEwata Tumanurung ri RantE Bulawang,

- Puang Wellangrilangi Tomanurung ri Bambapuang,

- NEnE’ Matindo Dama PakE Lalona ri Duri I, menikah dengan Cirinna Sambo Langi,

- La Patongai To Pasaja Timpa’E Tana, menikah dengan Puatta ri PalisuE,

- Guru La Sellang Puang Palipada Tomanurung ri Palli Posina Kaluppini,

- La Temmalala’ ManurungngE ri Sekkanyili’, Datu Soppeng I meneikah dengan We Temmapupu ri Suppa,

- La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I, menikah dengan We Mattengnga Empo ManurungngE ri Toro’,

- La BungEnge’ ManurungngE ri Bacukiki, menikah dengan We Teppulinge’ Tompo’E ri La Waramparang,

- Tumanurungnga ri TamalatE Sombayya Gowa I, menikah dengan KaraEng Bayo KaraEngta TurijE’nE,

- Uru Tau (Musinigaya Muranawa),

- KaraEng BEnEa Punta Dolangan Tumanurungnga ri Onto,

- ManurungngE ri Lampulungeng,

- ManurungngE ri Timpengeng,

- La Mallibureng ManurungngE ri Lowa, Addaoang Sidenreng I,

- Pancabilukka KaraEngta Sanrobone I,

- Puang ri SompaE ManurungngE ri AkkajangngE Lura MarajaE Sawitto,

- Puang ri Bulu Puang ri Cempa,

- ManurungngE ri Jangang-JangangngE,

- Indra Baji’ KarE’ Layu’ Tusanga Kalabbiranna,

- La Ulawu Tau ManurungngE Datu Lonra,

- ManurungngE ri Tanra Lili,

- ManurungngE ri Patila,

- …..masih banyak lagi yang lainnya.

Para tokoh Manurung dan Tompo yang mengawali terbentuknya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan Barat tersebut, pada umumnya terjadi diantara Abad XIII – XIV. Mereka dipandang sebagai sosok luar biasa yang memiliki “ kerre’ “ (Karomah) sebagai landasan ligitimasi kepemimpinannya, salahsatunya adalah : Maddara Takku (berdarah putih bagai getahnya pohon takku). Hal ini telah dibuktikan oleh seorang peneliti Eropa yang berkunjung ke Luwu dan menemukan seorang Bangsawan Tinggi Luwu yang bersedia ditusuk jarinya dan darah yang mengucur dari luka itu adalah benar-benar seputih susu (Pelras : 1996).

Prihal “kerre’” ini kemudian dibahas oleh Dr. Shelly Errinton yang mendapati perbedaan kepemimpinan awal dalam sejarah Eropa dan Sulawesi Selatan. Bahwa di Eropa, kepemimpinan seorang tokoh dilegitimasi oleh kekuatan militer, sementara di Sulawesi Selatan dilegitimasi oleh kesucian tokoh atau kerre’ yang dimilikinya. Seorang pemimpin dipandang suci karena kepemimpinannya adalah harapan kemakmuran bagi negerinya, sesuatu yang menyerupai system Teokrasi.
Keberadaan To Manurung dan To Tompo dibuktikan oleh fakta-fakta yang ada, sebagai berikut :

1. Kronik
Pelras (1996) mengemukakan, bahwa hamper semua kerajaan Bugis dengan seluruh daerah bawahannya hingga ke tingkat paling bawah memiliki kronik sendiri. Tradisi penulisan naskah yang kemudian disebut sebagai “Lontara” itu berisi mengenai catatan rinci mengenai silsilah keluarga, wilayah kerajaan, catatan harian serta catatan lain yang dipandang penting, misalnya : daftar kerajaan bawahan serta naskah perjanjian bilateral maupun intra-kerajaan sendiri, yakni antara penguasa dan rakyatnya.

Lebih lanjut beliau menguraikan pula, bahwa Kronik Bugis-Makasar dipuji oleh Ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang objektif dan bisa diandalkan kebenarannya. Hal itu, paling tidak berlaku untuk catatan mengenai periode 1400 Masehi dan seterusnya. Saat kronik tersebut ditulis berdasarkan dokumen dan peristiwa nyata yang terjadi pada saat itu.

2. Regalia
Seorang tokoh Tomanurung dan To Tompo senantiasa meninggalkan benda-benda pribadinya yang kemudian menjadi Regalia (Kalompoang/Arajang) pada negerinya. Benda-benda pusaka itu masih dapat dilihat sampai kini, diantaranya :

- DokE Pakka (Bessi PakkaE) di Luwu, peninggalan ManurungngE La Toge’langi Batara Guru,
- La Bunga Waru, peninggalan ManurungngE La Toge’langi Batara Guru,
- Sudanga, peninggalan KaraEng Bayo,
- La’lang SipuEa, peninggalan Manurungnga ri TamalatE,
- La TEakasi, peninggalan La Matatikka Tompo’E ri Buakkajeng,
- BElua’ ManurungngE, rambut ManurungngE ri Sekkanyili’,
- Dll..

3. Legenda Tempat
Daerah-daerah yang dinamai oleh ManurungngE dan Tompo’E masih ada bertebaran di seluruh kawasan Sulawesi Selatan dan Barat hingga saat ini.

4. Gaukeng (tradisi)
Tradisi yang diajarkan oleh ManurungngE dan Tompo’E masih lestari pada kalangan-kalangan tertentu hingga saat ini, misalnya : Alu’ Todolo, Tolotang, Patuntung, dll.

5. Keturunan
Keturunan para ManurungngE dan Tompo’E yang banyak bertebaran di Sulawesi Selatan dan Barat hingga kini masih ada yang dibuktikan dengan pelestarian ke-empat hal diatas.

Adalah hal yang kemudian menjadi penguat dalam memahami hakekat keberadaan para ManurungngE dan Tompo’E, yakni berkat wejangan Puekku Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, M.Pd. kepada kami, : “..pahamilah bahwa hakekat Orang Luwu sejak Sawerigading hingga saat ini masih tetap ada, tapi nanti dia dicari barulah dia akan muncul..”.

Nun wal Qolami wamaa yasturuun, Wallahualam Bissawab.
Oleh : Andi Oddang. sumber : grup wija to bone
----------------------------------------------
Daftar Bacaan :
1. Andi Zainal Abidin, Prof. Mr. Dr. ; 1985, Bandung, Alumni;
2. Andi Mattulada, Prof. Dr, ; 1998, Makassar, Universitas Hasanuddin Press;
3. Christian Pelras ; 2006. Manusia Bugis, Jakarta, Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris;
4. Shelly Errinton, Dr : 1977. Makalah ; Siri, Darah dan Kekuasaan Politik Di Dalam Kerajaan Luwu Zaman Dulu, Ujung Pandang, Majalah Bingkisan Sulawesi Selatan Tahun I-II.

Rabu, 25 Juli 2012

Asal Usul Gelar Andi

Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan atau cerita orang-orang tua dulu pada awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan referensi mutlak.

Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan "Andi" adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa. "Andi" ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan pemerintah Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan pemerintah Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes, seperti halnya La Patau dengan putri Karaeng Marusu' Angsakayaia Binangana Marusu', yakni Sitti Maemuna Dala Marusu'. Salah seorang keturunannya yang menjadi tokoh besar yakni putra dari La Mappangara Arung Sinri Tomarilaleng MatinroE Ri Sessoe yakni Syeikh Al Haj Abdur Razak Al Bugis Al Buni Syams Al Arifin, Syeikh Akbar Tarekat Khalwatiyah Samman.

Perkawinan tersebut sebagai upaya La Tenri Tatta Arung Palakka Petta To Risompae untuk membangun dan mengoperasikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi Sawerigading (Celebes).

Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jenderal Tosc Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi dia enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Ia sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi dia tidak memakai gelar "Andi" karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam "Lontara" tetapi ada baiknya juga ditampilkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama "Andi" tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah " Rompana Bone ". Dalam menghadapi Belanda dibentuklah tim khusus yaitu tim " Anre Guru Ana 'Karung "yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam tim tersebut tidak di batasi hanya pada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya memiliki posisi di daerah masing-masing seperti anak pabbicara'e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat ke meredaka. Mereka memiliki ilmu sebagai " Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti ". Anggota tim tersebut disapa dengan gelar "Andi" sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong'ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).

Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelar "Andi" atau "Petta" dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan " Nigatu Wija idi 'Baco / Baso? (Anda keturunan siapa Baso / Baco?) . Baso / Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab " Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole) ", maka Petta Imam Poke mengatakan" Koki tudang ana baco / baso "(duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa" Andi "mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta bilang " oohh, enreki mai ana baco "sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah" Andi "mereka pakai karena geleran untuk anak Ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam tim khusus tersebut.

Dalam versi yang hampir sama, gelar "Andi" pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 pada Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan fasilitas yang diperoleh untuk Bangsawan yang memakai gelar "Andi" didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.

Kelihatannya kita harus membuka Lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa'e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara luas untuk Ana 'Arung juga semakin sulit dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama'e Anre Gurutta HAPoke putra Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone) .

Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ' Bugis Wedding s '(telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).

Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap pemerintah. Soppeng misalnya hanya mengatur bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone sampai keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar kebangsawanan "Datu" adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lainnya, menurut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu sesuai terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis disebut Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara siswa dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.

Gelar "Andi" baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi / Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Kantor Belanda) untuk Onder Afdeling . Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan / penjajahan.

Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang / desa / wanua sebelum datangnya To Manurung / To Tompo . Pimpinan-pimpinan desa ini yang selanjutnya disebut Kalula / arung dengan nama alias / gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama desa / kondisi / perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan / pengangkatan oleh sekelompok anang / masyarakat maupun secara kekerasan (perang bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi / kuat.

Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, 'asal usul' dan 'namanya' terkadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan Kalula / arung / Matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan Kalula / arung yang selanjutnya menjadi penguasa / raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah pemerintahan / negara telah terbentuk-dimana tanah / wilayah, pemimpin / penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.

Penguasa / Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung / To Tompo [jika dia 'ada' / muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika pemerintah-pemerintah kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-pemerintah mulai diterapkan oleh Arung Palakka.

FATIMAH BANRI (WE BANRI GAU)
(1871 - 1895)
We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru 'Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau' di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. beliau kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaan SombaE ri Gowa.

Yang menjadi tanda tanya adalah:
Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama / gelar itu sebelumnya?
Mengapa kata 'Andi' yg digunakan / disepakati sebagai penandaan gelar untuk kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?
Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki.

Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu:
Bila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu: Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?

Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur.
Bila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu sampai mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak sampai Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Pemerintah Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.

Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis sampai Inggris sulit menyebut huruf "R".
Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung (Wanua, Limpo) yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara otomatis masyarakat luar melekatkan nama Andi didepannya. menajdi Andi Nu (sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki).

Dari beberapa uraian yang ditampilkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar "Andi" untuk bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.

sumber : kampungbugis.com

Minggu, 10 Juni 2012

Mabissu, Antara Tarian dan Aksi Debus

Aksi kekebalan tubuh terhadap senjata tajam atau Debus, nyatanya tidak hanya ada di Banten, Jabar. Sulawesi Selatan juga punya Tari Mabissu. Dalam pertunjukkan ini, penari akan menusuk-nusuk tubuhnya dengan badik

Tarian yang dimainkan oleh enam penari pria ini, awalnya terlihat biasa saja. Layaknya tarian pada umumnya, Mabissu diiringi oleh tabuhan gendang yang berirama khas. Dalam gerakannya, keenam penari ini melantunkan mantra-mantra mistis dalam bahasa To Rilangi (bahasa kuno suku Bugis).
Pertunjukkan seni ini sering ditampilkan pada perayaan Hari Jadi Bone ini, kental dengan aroma mistis. Selain lantunan mantra-mantranya, di arena pertunjukkan ini juga tersaji berbagai sesajen. Sesajen ini terdiri atas kue-kue tradisional Bugis, buah-buahan, ayam, kepala kerbau, dan sapi sebagai persembahan kepada roh leluhur.

Ada yang unik dari pertunjukkan seni ini, yaitu pakaian yang digunakan oleh penari. Melansir buku panduan "Pariwisata Nusantara" , keenam penari berdandan seperti perempuan dengan pakaian berwarna keemasan dan badik terselip di pinggang.
Ya, penari Mabissu biasanya menggunakan pakaian berwarna terang. Celana berpadu rok berwarna hijau, biru muda, kuning, dan merah menjadi pelengkap yang nyentrik.

Seiring musik mengalun, para penari mengelilingi Arajangegnge (benda yang dikeramatkan) sambil menggerakan tangannya dengan gemulai. Awalnya, gerakan penari-penari ini terlihat lambat. Namun, lama-kelamaan gerakannya semakin cepat.

Ketika sang penari semakin tak terkendali, tangan mereka langsung mengeluarkan badik yang terselip di pinggangnya. Seolah ada pengendali lain di dalam tubuhnya, para penari terlihat tak mampu melawannya. Mereka pun langsung menusuk-nusukan seluruh tubuhnya dengan badik tersebut. Nah, bagian ini dikenal sebagai Magiri.

Tak jarang, beberapa penari sampai terjatuh saat melakukan Magiri. Meskipun, tusukan senjata tajam mengenai hampir di sekujur tubuhnya tak ada satu pun luka yang terlihat
Atraksi seni yang bisa membuat ngilu ini, hanya boleh dilakukan oleh penari Mabissu. Walaupun terlihat mengerikan, tetap saja Tari Mabissu menjadi salah satu pemikat perhatian wisatawan yang beruntung menyaksikannya karena Mabissu tidak dilakukan setiap hari.
Jangan sekali-kali mencobanya! Bila tidak mempunyai keahlian khusus, bisa-bisa Anda terluka terkena benda tajam.

sumber : traveldetik.com

Senin, 14 November 2011

Situs Kerajaan Cina Kuno di Temukan di Bone

Jejak-jejak sejarah yang menakjubkan diwilayah Indonesia ditemukan di kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Sebuah situs sebuah kerajaan cina kuno berupa benteng bekas kerajaan serta pusara-pusara yang unik dan bertuliskan hurup cina kuno ditemukan. Sayangnya, situs ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat hingga tidak terurus.


Situs kerajaan cina kuno ini di temukan di beberapa titik seperti Desa Waollangu dan Desa Cingkang Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone. Situs berupa batu bekas tembok kerajaan serta beberapa pusara kuno yang diperkirakan berasal dari budaya cina kuno.

Tak hanya itu, salah satu nisan yang paling besar memaparkan tulisan cina kuno serta lambang yin dan yang yang telah lapuk dimakan lumut namun untungnya tetap masih bisa dilihat.
Sementara beberapa situs yang terdapat di desa cingkang berupa pusara kuno yang tak diketahui pemiliknya. Setiap nisan memiliki karakter symbol berbentuk ayam jago dan masing-masing mempunyai 4 buah nisan pada satu kuburan. Pada umumnya makam seperti ini memang banyak ditemukan pada situs cina kuno.

Ironisnya, situs yang tak ternilai ini hanya dibiarkan dan tidak terawat. Pengawasan yang minim itulah yang mengakibatkan benda-benda antik yang berharga seperti keramik porselin dan aksesoris lainnya lenyap dijarah oleh tangan-tangan jahil.

Selasa, 01 November 2011

Bone dalam Genggaman Kultural Mengerikan

Oleh : Imran Teritatta Amin Syam

Pada dasarnya sistem budaya yang mengikat Kabupaten Bone sebagai sebuah wasiat kearifan lokal (culture value) harus diterjemahkan dalam konteks kekinian. Wasiat kebudayaan jangan justru dikendalikan sesuai dengan hasrat kepentingan dan kekuasaan, apalagi menggunakan simbol-simbol kekuasaan dalam memenjarakan partisipasi aktif masyarakat Bone.

Kabupaten Bone dikenal sebagai daerah yang sarat dengan potensi alam yang berlimpah. Iklim geografisnya sangat memungkinkan multi sektorial, terutama sektor pertanian menjadi produktifitas yang signifikan.
Begitupun jika menilik kekayaan laut yang senantiasa menjadi pusat sirkulasi perdagangan. Secara tekstual mustahil jika dikatakan Kabupaten Bone tertinggal oleh kabupaten lain di Sulawesi Selatan.
Bukan hanya itu. Pusat sejarah dan kebudayaan Kabupaten Bone rupanya menjadi patronasi historis dalam membentuk sistem nilai dan pranata sosial yang biasa dikenal dengan sistem pangngadeereng.

Sistem Pangngadereng
Mattulada dalam Latoa mengisyaratkan tentang pranata sosial masyarakat Sulawesi Selatan yang disebut dengan panggadereng (bahasa Bugis) dan pangngaadakkang (bahasa Makassar). Pranata sosial dalam pangngadereng yang dimaksud meliputi; adak (adat kebiasaan), rapang (persamaan hukum), bicara (undang-undang), wari (pelapisan dan status sosial), dan sarak (syariat). Sebagaimana halnya struktur pemerintahan kerajaan, maka unsur-unsur pangadakkang pun yang telah ada sebelumnya tetap berlanjut setelah Islam diterima sebagai agama negara. Islam hanya memperkaya dengan menambahkan satu unsur yang disebut sarak (syariat).

Sebagai pranata Islam, sarak diakui sebagai salah satu unsur penyempurnaan struktur pemerintahan Kabupaten Bone pada masa lampau. Penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan merupakan babak baru dalam peradaban di kebudayaan di Kabupaten Bone, setelah beberapa periode pemerintahan tidak ditemukan perubahan yang mendasar.
Sayangnya, kompleksitas kebudayaan yang mengikat lima sistem sosial tersebut di atas seolah-olah telah ditinggalkan oleh peradaban kebudayaan kekinian. Padahal jika ditelusuri berdasarkan falsafah kebudayaan, panggadereng merupakan sistem nilai dan norma-norma masyarakat dalam menjalankan hubungan kolektivitas.
Sebuah hubungan interaksi sosial-budaya yang membentuk harmonisasi, yaitu serangkaian khasanah kebudayaan lokal yang senantiasa menekankan aspek kesantunan, etika politik, penegakan maupun kesamaan hukum dan penanaman nilai spiritualitas masyarakat. Sistem panggadereng merupakan sebuah kompleksitas kekayaan dan kearifan budaya yang tidak hadir begitu saja, tapi terbentuk setelah mampu memecah kebuntuan transformasi sosial (hierarki historia).

Olehnya, bangunan wasiat panggadereng senantiasa menjadi sebuah energi bagi masyarakat apabila kesadaran micro cosmos (manusia) terefleksikan melalui pesan-pesan macro cosmos (alam). Bahwasanya ada ketentuan-ketentuan alam dan spritualitas yang membangun etika dan moralitas masyarakat, termasuk hadirnya falsafah keseimbangan (balancing) dalam sistem kehidupan masa lampau.

Falsafah keseimbangan inilah yang senantiasa hilang dalam generasi keilmuan saat ini. Jika di China dikenal dengan konsep Ying Yang sebagai suatu kompleksitas kehidupan, maka di Kabupaten Bone dikenal dengan konsep sulapa appa'. Sebuah wujud kesempurnaan manusia dalam mengungkap rahasia-rahasia alam dan kehidupan.

Pergeseran Nilai
Pada dasarnya sistem budaya yang mengikat Kabupaten Bone sebagai sebuah wasiat kearifan lokal (culture value) harus diterjemahkan dalam konteks kekinian. Wasiat kebudayaan jangan justru dikendalikan sesuai dengan hasrat kepentingan dan kekuasaan, apalagi menggunakan simbol-simbol kekuasaan dalam memenjarakan partisipasi aktif masyarakat Bone.
Karena harus dipahami bahwa langkah-langkah partisipasi masyarakat dalam setiap aspek sektorial, justru merupakan sebuah aset mesin tatakelola yang sangat signifikan dalam mewujudkan progres pembangunan yang ideal. Namun jika tidak, maka masyarakat akan berusaha membentuk perubahannya sendiri ketika jenuh memperoleh hidangan kebijakan yang monoton dan terbatas.

Meningkatnya perkembangan ekonomi industri di Sulawesi Selatan semakin memberikan peluang bagi masyarakat dalam memasuki era-kompetitif. Nilai yang senantiasa mengilhami setiap keinginan untuk memperoleh pencitraan daerah saat ini begitu tinggi.

Bagi sebagian besar masyarakat mengasumsikan bahwa pada dasarnya prilaku partisipatif sangat susah dilakukan karena hampir dalam setiap interaksi sosial, mereka diikat oleh sistem yang menakutkan dengan beberapa instrumen kebijakan yang sistemik. Di sisi lain masyarakat Bone justru terseret pada partisipasi ekonomi-kapital; mengapa tidak, narasi ekonomi saat ini justru menawarkan hidangan industri yang begitu stimulatif.

Sebagian dari mereka menganggapnya sebagai konsekuensi modernisme, bagi yang tidak berpartisipasi dianggap kurang modern atau kolot. Perilaku massif tersebut menggiring masyarakat untuk memasuki konteks peradaban baru. Dari sinilah peran nilai budaya lokal harus di-interpretasikan secara kontekstual.

Dari simplifikasi di atas, yang harus dipahami bahwa wasiat kebudayaan Bone bukan merupakan pedoman strategi pemenjaraan potensi masyarakat Bone. Tidak membatasi ruang partisipasi masyarakat dalam mewujudkan progres pembangunan sektorial.

Yang harus dipahami bahwa wasiat kebudayaan kearifan Bone harus diletakkan sebagai suatu tujuan kolektifitas-partisipatif (collective consciousness). Kita harus memahami bahwa salah satu spirit perubahan masa lampau yang telah berhasil memerdekakan dan melepaskan sistem perbudakan masyarakat Bone adalah buah hasil dari perjuangan Arung Palakka i Latenritatta.
Artinya, Arung Palakka sebagai bagian dari perjalanan sejarah kepemimpinan Bone-pun melihat bahwa Kerajaan Bone harus diselamatkan dalam kungkungan otoritasi perbudakan dan membuka jalan perubahan melalui partisipasi kolektif yang lebih besar. Perjuangan yang melepaskan sistem feodalistik menuju perubahan yang demokratis. Jangan lagi wasiat kebudayaan mengalami pengusangan secara priodik, sehingga wasiat kultural masyarakat Bone sebagai landasan prinsip-prinsip pangngadereng hilang bersamaan dengan hadirnya tuntutan hasrat kekuatan dan kekuasaan yang salah tafsir.

Jika ditelusuri secara holistik, maka paradigma historia kultural Bone harus diterjemahkan dalam konsep ontologis. Yaitu bagaimana aset kebudayaan histories dapat diterjemahkan melalui pendekatan kekinian, sehingga kebudayaan Bone akan mampu menjadi spirit pembangunan yang berkarakter, sarat dengan ke-khasan dan identitas yang kokoh. Jika tidak, maka pesona sejarah hanya mampu menghisapi ruang-ruang fantasi kita, tanpa menyadari bahwa kita telah larut dalam genggaman kultur yang begitu mengerikan.

Source : tribun-timur.com.

Jumat, 30 September 2011

Masyarakat Bone Heboh Isu Penemuan Goa Prasejarah

Masyarakat Kabupaten Bone, Sulsel, tengah dihebohkan kabar penemuan gua prasejarah di Desa Langi, Kecamatan Bontocani. Isu seputar kebenaran gua pra sejarah itu kini jadi bahan perbincangan yang hangat di masyarakat.

Berdasarkan sitat tribun-timur com, gua pra sejarah yang terletak sekitar 70 kilometer dari Kota Watampone memiliki kemiripan dengan gua Leang- Leang di Kabupaten Maros.

Di dalam gua tersebut dikabarkan terdapat lukisan tangan dan binatang yang konon dibuat oleh manusia purba yang hidup di gua tersebut.

Menurut laporan, gua tersebut ditemukan pada 22 Januari lalu oleh beberapa warga setempat yang tengah berburu babi hutan. Meski demikian, isu tersebut belum mendapat respon dari pemerintah setempat.

Hingga berita ini diturunkan, belum satu pun petugas Dinas Pariwisata maupun instansi terkait melakukan pengecekan kebenaran penemuan gua.

Selasa, 13 September 2011

Belajar Bagaimana Dahulu Bone Menggetarkan Nusantara

Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Kerajaan Bone yang dalam catatan sejarah didirikan oleh ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroe ri Bontoala, pertengahan abad ke-17 (A. Sultan Kasim,2002). Kebesaran kerajaan Bone tersebut dapat memberi pelajaran dan hikmah yang memadai bagi masyarakat Bone saat ini dalam rangka menjawab dinamika pembangunan dan perubahan-perubahan sosial, perubahan ekonomi, pergeseran budaya serta dalam menghadapi kecenderungan yang bersifat global.

Belajar dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone pada masa lalu minimal terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk diaktualisasikan dan dihidupkan kembali karena memiliki persesuaian dengan kebutuhan masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan kearah yang lebih baik.
Ketiga hal yang dimaksud adalah :

Pertama, pelajaran dan hikmah dalam bidang politik dan tata pemerintahan. Dalam hubungannya dengan bidang ini, sistem kerajaan Bone pada masa lalu sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat atau dalam terminology politik modern dikenal dengan istilah demokrasi. Ini dibuktikan dengan penerapan representasi kepentingan rakyat melalui lembaga perwakilan mereka di dalam dewan adat yang disebut "ade pitue", yaitu tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasehat raja. Segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaan dimusyawarahkan oleh ade pitue dan hasil keputusan musyawarah disampaikan kepada raja untuk dilaksanakan.

Selain itu di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan azas kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan Kajaolaliddong seorang cerdik cendikia Bone yang hidup pada tahun 1507-1586 yang pernah disampaikan kepada Raja Bone seperti yang dikemukakan oleh Wiwiek P . Yoesoep (1982 : 10) bahwa terdapat empat faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:
 

  • Seuwani, Temmatinroi matanna Arung MangkauE mitai munrinna gauE (Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan). 
  •  Maduanna, Maccapi Arung MangkauE duppai ada' (Raja harus pintar menjawab kata-kata). 
  •  Matellunna, Maccapi Arung MangkauE mpinru ada' (Raja harus pintar membuat kata-kata atau jawaban).
  • Maeppa'na, Tettakalupai surona mpawa ada tongeng (Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar).
Pesan Kajaolaliddong ini antara lain dapat diinterpretasikan ke dalam pemaknaan yang mendalam bagi seorang raja betapa pentingnya perasaan, pikiran dan kehendak rakyat dipahami dan disikapi.

Kedua, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar menjadi lebih baik.
Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu.

Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng yang melahirkan TELLUM POCCOE atau dengan sebutan lain "LaMumpatue Ri Timurung" yang dimaksudkan sebagai upaya memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi tantangan dari luar.
 

Ketiga, adalah warisan budaya yang kaya dengan pesan-pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone pada masa lalu.

Banyak refrensi yang bisa dipetik dari sari pati ajaran Islam dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab tantangan pembangunan dan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat. Namun yang terpenting adalah bahwa semangat religiusitas orang Bone dapat menjawab perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya. Demikian halnya (kabupaten Bone) potensi yang besar yang dimiliki, yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan demi kemakmuran rakyat. Potensi itu cukup beragam seperti dalam bidang pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata dan potensi lainnya.

Demikian masyarakatnya dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendorong pelaksanaan pembangunan Bone itu sendiri. Walaupun Bone memiliki warisan sejarah dan budaya yang cukup memadai, potensi sumber daya alam serta dukungan SDM, namun patut digaris bawahi jika saat ini dan untuk perkembangan ke depan Bone akan berhadapan dengan berbagai perubahan dan tantangan pembangunan yang cukup berat. Oleh karena itu diperlukan pemikiran, gagasan dan perencanaan yang tepat dalam mengorganisir warisan sejarah, kekayaan budaya, dan potensi yang dimiliki ke dalam suatu pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.

Jumat, 19 Agustus 2011

Raja Walenreng III di Kukuhkan

Keluarga Besar Petta Walenreng dan masyarakat Walenreng Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, mengukuhkan Andi Bulan Kenkeng sebagai Raja Walenreng III

Pengukuhan digelar sesuai ritual adat Walenreng dan dihadiri anak cucu Petta Walenreng. Selain itu sejumlah mahasiswa kedokteran dari Unhas juga hadir. Sebanyak 30 mahasiswa asal Malaysia juga menyaksikan gelar kebangsawanan ini.

Pembacaan silsilah Petta Walenrang dilakukan tokoh adat Walenreng, Andi Sakaria Petta Toba, yang juga mantan kepala desa setempat.

Andi Bulan merupakan cucu langsung dari Andi Marujungi Petta Walenreng yang merupakan salah satu raja yang ada dalam lingkup kerajaan Bone. Sepeninggal Raja pertama tersebut kemudian digantikan oleh Andi Mappa Petta Tunru sekaligus Raja ke II Walenreng. Kerajaan Walenreng dulu meliputi Sibule, Mare Cina dan sekitarnya.

Dalam kata pengantarnya, Andi Bulan yang kini menyandang gelar Petta Walenreng Ke-III menyatakan pengukuhan tersebut tidak untuk membangkitkan semangat feodalisme seperti di jaman kerajaan tetapi semata-mata hanya untuk menjaga nama baik, budaya serta sejarah Kerajaan Walenreng agar tidak punah termakan waktu.

Andi Bulan selama ini dikenal sebagai tokoh perempuan Sul-Sel yang juga mantan Ketua Perempuan PDK Sulsel, beliau merupakan saudara dari Andi Mallarangeng, mantan Walikota Pare-Pare, orang tua dari Andi Alifian Mallarangeng yang saat ini menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Rizal/Celly Mallarangeng, Andi Choel dan Andi Nina Mallarengeng

Selasa, 23 Februari 2010

RIWAYAT KABUPATEN BONE




Di Tulis Oleh : Andi Pamelleri (Budayawan Bone)
Bone dahulu disebut TANAH BONE. Berdasarkan LONTARAK bahwa nama asli Bone
adalah PASIR, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah KESSI (pasir). Dari sinilah asal
usul sehingga dinamakan BONE. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone
sebenarnya adalah lokasi Bangunan Mesjid Raya sekarang letaknya persis di Jantung Kota
Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone tepatnya di Kelurahan Bukaka.
Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak
adanya ManurungngE Ri Matajang pada awal abad XIV atau pada tahun 1330.
ManurungngE Ri Matajang bergelar MATA SILOMPO’E sebagai Raja Bone Pertama
memerintah pada Tahun 1330 – 1365. Selanjutnya digantikan Turunannya secara turun
temurun hingga berakhir Kepada H.ANDI MAPPANYUKKI sebagai Raja Bone ke – 32 dan ke
– 34 Diantara ke – 34 Orang. Raja yang telah memerintah sebagai Raja Bone dengan gelar
MANGKAU, terdapat 7 (tujuh) orang Wanita.
Struktur Pemerintahan Kerajaan Bone dahulu terdiri dari :
• ARUNG PONE (Raja Bone) bergelar MANGKAU
• MAKKEDANGNGE TANAH ( Bertugas dalam bidang hubungan/urusan dengan
kerajaan lain (Menteri Luar Negeri)
• TOMARILALENG (Bertugas dalam Bidang urusan dalam daerah Kerajaan lain
(Meteri dalam Negeri)
• ADE PITU (Hadat Tujuh)
Terdiri dari Tujuh orang, merupakan Pembantu Utama/Pemimpin
Pemerintahan di Kerajaan Bone, masing-masing :
1. ARUNG UJUNG
Bertugas mengepalai Urusan Penerangan Kerajaan Bone.
2. ARUNG PONCENG
Bertugas mengepalai Urusan Kepolisian/Kejaksaan dan Pemerintaha.
3. ARUNG T A’
Bertugas mengepalai Urusan Pendidikan, dan mengetuai Urusan perkara
Sipil.
4. ARUNG TIBOJONG
Bertugas mengepalai Urusan perkara/Pengadilan Landschap/ badat besar
dan mengawasi urusan perkara Pengadilan Distrik/ badat kecil.
5. ARUNG TANETE RIATTANG
Bertugas mengepalai memegang Kas Kerajaan, mengatur Pajak
dan Pengawasan Keuangan.
6. ARUNG TANETE RIAWANG
Bertugas mengepalai Pekerjaan Negeri (Landschap Werken-LW) Pajak
Jalan dan Pengawas Opzichter.
7. ARUNG MACEGE
Bertugas mengepalai Urusan Pemerintahan Umum dan Perekonomian.
• PONGGAWA (Panglima Perang )Bertugas dibidang Pertahanan
Kerajaan Bone dengan membawahi 3 (tiga) perangkat masing-masing :
1. ANREGURU ANAKARUNG
Bertugas mengkoordinir para anak Bangsawan berjumlah 40 (Empat puluh)
orang bertugas sebagai pasukan elit Kerajaan.
2. PANGULU JOA
Bertugas mengkoordinir pasukan dari rakyat Tana Bone yang disebut
Passiuno artinya : pasukan siap tempur dimedan perang setiap saat; rela
mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya Kerajaan Bone dari gangguan
Kerajaan lain.
3. DULUNG (Panglima Daerah)
Bertugas mengkoordinir daerah Kerajaan bawahan, di Kerajaan Bone
terdapat 2 (dua) Dulung (Panglima Daerah) yakni Dulungna Ajangale dari
kawasan Bone Utara dan Dulungna Awang Tangka dari Bone Selatan.
• JENNANG (Pengawas)
Berfungi mengawasi para Petugas yang menangani bidang pengawasan baik
dalam lingkungan istana, maupun dengan daerah/ kerajaan bawahan.
• KADHI (Ulama) Perangkatnya terdiri dari Imam, Khatib, Bilal
Dan lain-lain, bertugas sebagai Penghulu Syara dalam Bidang Agama Islam,
Keberadaan Kadhi (Ulama) di Kerajaan Bone ini senantiasa bekerja sama demi
kemaslahatan rakyat, bahkan Raja Bone(Mangkau) meminta Fatwa kepada
Kadhi khususnya menyangkut hukum islam.
• BISSU ( Waria) Bertugas merawat benda – benda Kerajaan
Disamping melaksanakan pengobatan tradisional, juga bertugas dalam
kepercayaan kepada Dewata SeuuwaE. Setelah masuknya Agama Islam di
Kerajaan Bone, kedudukan Bissu di non aktifkan.
Waktu bergulir terus maka pada tahun 1905 Kerajaan Bone di kuasai oleh Penjajah
Belanda. Kemudian atas persetujuan Dewan Ade PituE Ri Bone nama LALENG BATA
sebagai Ibu Kota Kerajaan Bone diganti namanya menjadi WATAMPONE sampai sekarang.
Pada tanggal 2 Desember 1905 oleh Pemerintah Belanda di Jakarta menetapkan bahwa
adapun pengertian TELLUMPOCCOE ( Tri Aliansi) di Sulawesi Selatan ialah : Bone, Wajo
dan Soppeng. Disatukan dalam satu sistem pemerintahan yang dinamakan AFDELING.
Dimana Afdeling Bone dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dengan nama Onder Afdeling masingmasing
:
1. Onder Afdeling Bone Utara Ibu Kotanya Pompanua, Ibu kota
Afdeling ini ditempati oleh Asisten Residen.
2. Onder Afdeling Bone Tengah Ibu Kotanya Watampone di
Perintah oleh Controler.
3. Onder Afdeling Bone Selatan Ibu kotanya Mare diperintah Oleh
Aspiran Controler.
Pada tahun 1944 ketika tentara Jepang semakin terdesak oleh Sekutu,Jepang
berusaha mengajak rakyat untuk membela Tanah Airnya. Jika di Pulau Jawa dan
daerah lainnya terbentuk oleh suatu Wadah untuk menghimpun rakyat untuk mencapai
Kemerdekaan, maka di Tana Bone dibentuk suatu Organisasi yang dikenal dengan nama
SAUDARA kepanjangan dari SUMBER DARAH RAKYAT.
SAUDARA ini dibentuk adalah merupakan persiapan Badan persetujuan yang
sesungguhnya berjuang untuk mencegah kembali penjajahan Belanda di Indonesia.
Kabupaten Bone setelah lepas dari Pemerintahan Kerajaan, sampai saat ini
tercatat 13 (tiga belas) Kepala Daerah di beri kepercayaan untuk mengembang amanah
pemerintahan di Kabupaten Bone masing-masing :
1. Andi Pangeran Petta Rani
Kepala Afdeling/ Kepala Daerah Tahun 1951 sampai dengan tanggal 19 Maret
1955.
2. Ma’Mun Daeng Mattiro
Kepala Daerah tanggal 19 Maret 1955 sampai dengan 21 Desember 1957.
3. H.Andi Mappanyukki
Kepala Daerah/ Raja Bone tanggal 21 Desember 1957 sampai dengan 21 1960.
4. Kol. H.Andi Suradi
Kepala Daerah tanggal 21 M e i l960 sampai dengan 01 Agustus 1966.
5. Andi Baso Amir
Kapala Daerah Tanggal 02 Maret 1967 sampai dengan 18 Agustus 1970.
6. Kol. H. Suaib
Bupati Kepala Daerah tanggal 18 – 08 - 1970 sampai dengan 13 Juli 1977.
7. Kol.H.P.B.Harahap
Bupati Kepala Daerah tanggal 13 Juli 1977 sampai dengan 22 Pebruari 1982.
8. Kol.H.A.Made Alie
PGS Bupati Kepala Daerah tanggal 22 Pebruari 1982 sampai dengan 6 April 1982 sampai
dengan 28 Maret 1983.
9. Kol.H.Andi Syamsul Alam
Bupati Kepala Daerah tanggal 28 Maret 1983 sampai dengan 06 April 1988.
10. Kol.H.Andi Sjamsul Alam
Bupati Kepala Daerah tanggal 06 April 1988 sampai dengan 17 April l993.
11. Kol. H.Andi Amir
Bupati Kepala Daerah tanggal 17 April 1993 Sampai 2003
12. H. A. Muh. Idris Galigo,SH
Bupati Kepala Daerah tahun 2003 Sampai Sekarang
GAMBARAN UMUM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BONE
A. SEJARAH BERDIRINYA KABUPATEN BONE
Kerajaan Tana Bone dahulu terbentuk pada awal abad ke- IV atau pada tahun
1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk sudah ada kelompok-kelompok dan
pimpinannya digelar KALULA
Dengan datangnya TO MANURUNG ( Manurungge Ri Matajang ) diberi gelar MATA
SILOMPO-E. maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk
Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG MATA
SILOMPO- E menjadi Raja Bone, terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia
antara rakyat Bone dalam hal ini diwakili oleh penguasa Cina dengan 10 MANURUNG ,
sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada Rajanya sekaligus merupakan
pencerminan corak pemerintahan Kerajaan Bone diawal berdirinya. Disamping
penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya
menjadi kewajiban Raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta
terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat.
Adapun teks Sumpah yang diucapkan oleh penguasa Cina mewakili rakyat Bone
berbunyi sebagai berikut ;
“ ANGIKKO KURAUKKAJU RIYAAOMI’RI RIYAKKENG
KUTAPPALIRENG ELOMU ELO RIKKENG ADAMMUKKUWA MATTAMPAKO
KILAO.. MALIKO KISAWE. MILLAUKO KI ABBERE.
MUDONGIRIKENG TEMMATIPPANG. MUAMPPIRIKKENG
TEMMAKARE. MUSALIMURIKENG TEMMADINGING “
Terjemahan bebas ;
“ ENGKAU ANGIN DAN KAMI DAUN KAYU, KEMANA BERHEMBUS KESITU
KAMI MENURUT KEMAUAN DAN
KATA-KATAMU YANG JADI DAN BERLAKU ATAS KAMI, APABILA ENGKAU
MENGUNDANG KAMI MENYAMBUT
DAN APABILA ENGKAU MEMINTA KAMI MEMBERI, WALAUPUN ANAK
ISTRI KAMI JIKA TUANKU TIDAK SENANGI KAMIPUN TIDAK
MENYENANGINYA, TETAPI ENGKAU MENJAGA KAMI AGAR TENTRAM,
ENGKAU BERLAKU ADIL MELINDUNGI AGAR KAMI MAKMUR
DAN SEJAHTERA ENGKAU SELIMUTI KAMI AGAR TIDAK KEDINGINAN ‘
Budaya masyarakat Bone demikian Tinggi mengenai sistem norma atau adat
berdasarkan Lima unsur pokok masing-masing : Ade, Bicara, Rapang, Wari dan Sara
yang terjalin satu sama lain, sebagai satu kesatuan organis dalam pikiran masyarakat
yang memberi rasa harga diri serta martabat dari pribadi masing-masing. Kesemuanya
itu terkandung dalam satu konsep yang disebut “ SIRI “merupakan integral dari ke
Lima unsur pokok tersebut diatas yakni pangadereng ( Norma adat), untuk
mewujudkan nilai pangadereng maka rakyat Bone memiliki sekaligus mengamalkan
semangat/budaya ;
SIPAKATAU
artinya : Saling memanusiakan , menghormati / menghargai harkat dan martabat
kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan ALLAH tanpa membeda - bedakan,
siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku
SIPAKALEBBI
artinya : Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur
kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat
dan budaya yang berlaku dalam masyarakat
SIPAKAINGE
artinya: Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain,
manerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar kesadaran bahwa sebagai
manusia biasa tidak luput dari kekhilafan
Dengan berpegang dan berpijak pada nilai budaya tersebut diatas, maka sistem
pemerintahan Kerajaan Bone adalah berdasarkan musyawarah mufakat. Hal ini dibuktikan
dimana waktu itu kedudukan ketujuh Ketua Kaum ( Matoa Anang ) dalam satu majelis
dimana MenurungE sebagai Ketuanya
Ketujuh Kaum itu diikat dalam satu ikatan persekutuan yang disebut KAWERANG,
artinya Ikatan Persekutuan Tana Bone. Sistem Kawerang ini berlangsung sejak ManurungE
sebagai Raja Bone pertama hingga Raja Bone ke IX yaitu LAPPATAWE MATINROE RI
BETTUNG pada akhir abad ke XVI
Pada tahun 1605 Agama Islam masuk di Kerajaan Bone dimasa pemerintahan Raja
Bone ke X LATENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG. Pada masa itu pula sebuatan Matoa
Pitu diubah menjadi Ade Pitu ( Hadat Tujuh ), sekaligus sebutan MaTOA MENGALAMI PULA
PERUBAHAN MENJADI Arung misalnya Matua Ujung disebut Arung Ujung dan seterusnya
Demikian perjalanan panjang Kerajaan Bone, maka pada bulan Mei 1950 untuk
pertama kalinya selama Kerajaan Bone terbentuk dan berdiri diawal abad ke XIV atau
tahun 1330 hingga memasuki masa kemerdekaan terjadi suatu demonstrasi rakyat dikota
Watampone yaitu menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur, serta dihapuskannya
pemerintahan Kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang pemerintah Republik Indonesia
Beberapa hari kemudian para anggota Hadat Tujuh mengajukan permohonan
berhenti. Disusul pula beberapa tahun kemudian terjadi perubahan nama distrik/onder
distrik menjadi KECAMATAN sebagaimana berlaku saat ini.
Pada tanggal 6 April 1330 melalui rumusan hasil seminar yang diadakan pada tahun
1989 di Watampone dengan diperkuat Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Bone No.1
Tahun 1990 Seri C, maka ditetapkanlah tanggal 6 April 1330 sebagai HARI JADI KABUPATEN
BONE dan diperingati setiap tahun .
B. LETAK GEOGRAFI DAN POTENSI WILAYAH
Daerah Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten yang terdapat di
Propinsi Sulawesi Selatan, secara Geografis letaknya sangat strategis karena adalah pintu
gerbang pantai timur Sulawesi Selatan yang merupakan pantai Barat Teluk Bone memiliki
garis pantai yang cukup panjang membujur dari Utara ke Selatan menelusuri Teluk Bone
tepatnya 174 Kilometer sebelah Timur Kota Makassar, luas wilayah Kabupaten Bone 4,556
KM Bujur Sangkar atau sekitar 7,3 persen dari luas Propinsi Sulawesi Selatan, didukung 27
Kecamatan, 335 Desa dan 39 Kelurahan, dengan jumlah penduduk 648,361 Jiwa
Kabupaten Bone berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut ;
- Sebelah Utara Kabupaten Wajo
- Sebelah Selatan Kabupaten Sinjai
- Sebelah Barat Kabupaten Soppeng, Maros, Pangkep dan Barru
- Sebelah Timur adalah Teluk Bone yg menghubungkan Propinsi SulawesiTenggara
Untuk jelasnya 27 Kecamatan di Kabupaten Bone dicantumkan sebagai berikut ;
1. Kecamatan Tanete Riattang
2. Kecamatan Tanete Riattang Barat
3. Kecamatan Tanete Riattang Timur
4. Kecamatan Palakka
5. Kecamatan Awangpone
6. Kecamatan SibuluE
7. Kecamatan Barebbo
8. Kecamatan Ponre
9. Kecamatan C I n a
10. Kecamatan M a r e
11. Kecamatan Tonra
12. Kecamatan Salomekko
13. Kecamatan Patimpeng
14. Kecamatan Kajuara
15. Kecamatan K a h u
16. Kecamatan Bontocani
17. Kecamatan Libureng
18. Kecamatan Lappariaja
19. Kecamatan Bengo
20. Kecamatan Lamuru
21. Kecamatan Tellu LimpoE
22. Kecamatan Ulaweng
23. Kecamatan Amali
24. Kecamatan Ajangale
25. Kecamatan Dua BoccoE
26. Kecamatan Tellu SiattingE
27. Kecamatan Cenrana
C. TOPOGRAFI DAN PEMANFAATAN LAHAN
Kalau kita amati Kabupaten Bone termasuk daerah tiga demensi yaitu ; Pantai,
Daratan dan Pegunungan, luas sawah sebagai lahan pertanian adalah 455.600 Ha, sehingga
Kabupaten Bone ditetapkan sebagai daerah penyangga beras untuk Propinsi Sulawesi
Selatan yang biasa dikenal dengan istilah BOSOWA SIPILU singkatan dari Bone, Soppeng,
Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu, begitu pula daerah pantainya sangat panjang membujur
dari Utara ke Selatan yang menyusuri Teluk Bone dari 27 Kecamatan yang ada di
Kabupaten Bone, 9 diantaranya adalah masuk daerah pantai seperti Kecamatan Cenrana,
Tellu SiantingE, Awangpone, Tanette Riattang Timur, SibuluE, Mare, Tonra, Salomekko dan
Kajuara, dengan demikian sumber mata pencaharian penduduk Kabupaten Bone sebagaian
besar adalah Petani dan Nelayan.
Pemanfaatan lahan ;
- Sawah : 455.600 Ha
- Kebun / Tegalan : 55.052 Ha
- Hutan : 162.995 Ha
- Tambak : 1.450 Ha
D. ADMINISTRASI PEMERINTAHAN BONE DIERA OTODA
Otonomi daerah yang sebagaimana digariskan oleh Undang – Undang No. 22 Tahun
1999 yang secara efektif diberlakukan pada 1 Januari 2001, memang akan menyita
berbagai pemikiran bagi pemerintah ditingkat Kabupaten
Karena dalam pelaksanaannya memerlukan transportasi para digmatik terutama
dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dari pemikiran ini pemerintah Kabupaten
Bone berupaya merumuskan langkah-langkah yang strategis serta berbagai kebijakan untuk
menjawab tuntutan yang sifatnya mendesak seperti peningkatan Sumber Daya
Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Potensi Bone merupakan salah satu daerah yang
berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan memiliki peranan yang penting dalam
perdagangan
Barang dan jasa dikawasan Timur Indonesia, apalagi Kabupaten yang berpenduduk
648.361 Jiwa memiliki Sumber Daya Alam disektor pertambangan misalnya bahan industri
atau bangunan, emas, tembaga, perak, batubara dan pasir kuarsa.
Seluruhnya dapat dieksplorasi dan eksploitasi, namun hal ini akan menjadi peluang
emas bagi masyarakat Bone dalam peningkatan Kesejahteraan dimasa yang akan datang
dalam pelaksanaan Otonomi Daerah sedikitnya hal ini akan menjadi penunjang utama
peningkatan pembangunan….. Insya Allah
Makassar, 22 April 2006

Jumat, 15 Januari 2010

Jusuf Kalla dan Arung Palakka Jagoan Batavia



Tulisan ini akan menampilkan dua PutraBone yang sepak terjangnya telah tercatat dalam tinta emas sejarah nusantara Indonesia. Satu mewakili era sebelum kemerdekaan dan yang satunya mewakili paska kemedekaan
Arung Palakka (15 September 1634-)
Pada 15 September 1634 di Kerajaan Bone di desa Palakka lahirnya seorg pemuda yg kemudian terkenal sebagai Raja Bone Arung palakka. Dan di Makassar 12 januari 1631 Sultan Hasanuddin juga lahir. pada masa ini situasi politik lagi genting2nya krn menghadapi agresi portugis yg ingin menaklukkan kerajaan Goa untuk menguasai jalur perdagangan rempah2 yg selama itu pelabuhannya di bawah kekuasaan Raja Goa. dlm menghadapi agresi portugis dan belanda, Raja melakukan koalisi dengan semua kerajaan yg ada, termasuk Kerajaan Bone yg sebelumnya Kerajaan Bone diserang oleh kerajaan Luwuk dan Raja Bone sebagai pemenang.Dan disinilah awal mulanya arung palakka mulai menimbah ilmu bersama sultan hasanuddin. Pada masa2 ini walau aru palakka dan sultan hasanuddin berteman, namun klmpok bangsawan Goa selalu melecehkan keberadaan arung palakka dan teman2nya krn arung palakka denga ketangkasannya menjadi anak kesayangan Raja Goa.
Akhirnya krn tdk tahan dgn perlakuan itu, Arung palakka melakukan pelarian ke Pulau Buton (Sulawesi Tenggara). Krn pelarian itu Raja Gowa melakukan pengejaran sampe ke Buton, dan dgn bersama2 beberapa teman nya, kemudian Aru palakka melakukan pelarian ke jawa dan daerah tujuannya adalah Batavia (jakarta). Atas jasa jendral speelman,VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.
Sejak kedatangan arung, speelman dgn menggunakan keperkasaan arung mulai melakukan invasi dan penanklukan kepada setiap gerakan perlawanan di Batavia, sampai mampu menaklukkan kerajaan minagkabau, merambah NTT dan NTB..sampai menaklukkan Kerajaan Gowa dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin.
Arung Palakka dan Kisah Heroik di Batavia
JAUH sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660, ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.
Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.
Aku menemukan nama Arung Palakka saat membaca sebuah arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Barusan, aku juga membaca sebuah novel yang berisikan data sejarah tentang Batavia di masa silam dengan sejarah kelam yang membuat bulu kuduk bergidik. Selama beberapa hari ini, sejarah Batavia seakan berpusar terus di benakku. Berbagai referensi itu menyimpan sekelumit kisah tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri gagah di tengah Kota Watampone.
Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. Namun, ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian membuncah tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.
Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dan dalam tawanan Makassar. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.
Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat dari hal yang sama yaitu keterasingan. Ketiganya punya sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legenda. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu yang menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.
Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral: di satu sisi hendak membebaskan Bugis, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara. Kisahnya berawal pada tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke situ dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bugis, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.
Sedang Kapiten Jonker punya reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan pada pegawai keturunan VOC keturunan Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukan Nusantara di Barat, Tengah, dan Timur. Mereka punya andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya sebab mereka punya bala tentara yang besar. Di luar ketiganya, ia hanya mengandalkan serdadu bayaran multibangsa dengan loyalitas yang rendah. Akibat kekuasaan yang besar serta penguasaan monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.
Sayangnya, kisah menakjubkan dari tiga jagoan Batavia ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama. Musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac de¢lOrnay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini, berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Ambon ini di Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang. Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu. Kepalanya dipancung dan dipertontonkan. Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.
Sedang Arung Palakka disingkirkan secara halus dengan cara memasung langkahnya untuk tetap menjadi Raja Bone, kemudian kekuasaannya dikontrol dari Benteng Rotterdam. Pria Bugis ini dijauhkan dari hiruk-pikuk politik di Batavia sehingga kehilangan semua kuasa dan pengaruh besarnya di jantung kekuasaan VOC. Ia seakan diasingkan agar tidak lagi membangun networking atau jaringan dengan bala tentaranya di Batavia. Hingga akhirnya Arung Palakka kesunyian dan menjemput ajalnya di bumi Sulawesi. Namun, namanya telah terpatri sebagai jagoan tanpa lawan di tanah Batavia

Jusuf Kallah dengan Pertarungannya di Wilayah Nusantara
Jusuf kalla (JK) adalah wapres RI plus Ketua Golkar, beliau adalah prototipe Bugis Bone, dimana ortunya dan JK sendiri terlahir di tanah Palakka. Persamaan lain, saat ini di Jakarta (Batavia) sejak era Kabinet SBY menjadi jawara kabinet dan tokoh kunci yg memegang peranan sgt besar di dlm koalisinya dgn SBY dan PD meksukseskan pemerintahan SBY, seperti koalisi kerajaan Bone dan Gowa. Selama di kabinet pun nampaknya teman2 JK Golkar selalu merasa dilecehkan oleh orng2 PD yg nota bene SBY. Sampai puncak pelecehan bhw Golkar kali ini hanya mampu meraup 2,5 % suara di pileg, wlu itu tdk terbukti.
Belajar dari kasus Arung Palakka, akankah JK titisan tanah Palakka ini akan melarikan diri dari SBY dan melakukan koalisi dengan partai lain yg lebih besar, yg sebanrnya ini sudah dirintis JK dgn Poros Golkar-PDIP-PPP, jika JK seorng kesatria Arung Palakka, maka itu akan dilakukannya, walau pun Golkar kalah dari pileg, krn hanya dengan dasar kekecewaan dan kekalahanlah yg menjadi tekad bulat untuk keluar sebagai pemenang, seperti kisah Raja Arung Palakka dengan modal kekecewaan dan kekalahan dari Kerajaan Gowa, dia melakukan koalisi dgn kekuatan lain, dan dgn semangat itu Raja Arung Palakka dapt menguasaai Kerajaan Goa dan menjadi pemenang.
Akankah jargon JK “dengan semangat maju, Lebih Cepat Lebih Baik” yg merupakan jargon titisan Raja Arung palakka akan mewarnai diri JK menantang SBY dengan berkoalisi sama partai lain dalam Pilpres 2009 ?????
Jika Ya, artinya memang JK adalah titisan Raja Arung Palakka, jika tidak sesungguhnya JK adalah Jusuf Pribadi, seorang rakyat biasa dari tanah Palakka yg telah bangga hanya sebagai wapres.
Bravo JK Golkar. Vini Vidi Vici, itulah motto Raja Arung Palakka seorang jagoan dari Batavia come back to country meraih kemenangan.
Setting kilas balik sejarah seperti akan terjadi lagi, bagi para penganut ajaran reinkarnasi yang saat ini sudah melebar ke wacana umat Islam seperti banyak dilansir dari buku-buku karya Achmad Chodjim di dalam bukunya, “Makna Kematian” (ulasan pandangan Islam Syech Siti Djenar) dan ” Mistik Sunan Kalijaga”. Hari ini dalam Rapimnasus Partai Golkar melahirkan kesepakatan bulat mengusung JK The Real President sebagi Capres Golkar.
Dengan amanah Golkar, JK nyapres, sebuah langkah awal bagaimana JK akan mengulang sejarah pergulatan Aru Palakka Sang Jagoan Batavia. Aru Palakka pada saat itu di dalam melakukan aksinya, berkoalisi dengan Spelman (Petinggi VOC) sebuah koalisi yang dia lakukan, walau tidak sreg di hatinya, namun langkah itu harus dia lakukan demi cita-citanya meraih kemenangan. Aru Palakka di dalam melaksanakan niatnya tidak jadi soal dia dapat posisi apa, bagi dirinya menjadi kesatria andalan saja sudah cukup untuk menumpas pemberontakan. Ini pun akan terulang pada diri JK, hanya pada kali ini dan untuk pertama kalinya dalam panggung politik, Golkar di bawah tangan dingin JK akan berkoalisi dengan PDIP, walaupun seperti rasa hati Aru Palakka tidak terlalu sreg jika berkoalisi dengan PDIP. Namun untuk meneggakkan konsep “sirri na pacce” Jk, seperti Aru Palakka menegakkan siri-nya, mungkin Jk akan mengambil langkah, koalisi Golkar dan PDIP harus terjadi, walaupun JK mungkin hanya jadi Wapres. Jika hal ini terjadi dan JK jadi pemenang, maka JK akan mengulang sejarah kisah sukses Aru Palakka sebagai jagoan Batavia, sebagai kesatria Batavia. Namun jika kalah dari SBY, Artinya JK juga sudah mengulang kisah jiwa kesatria Aru Palakka, selama 4 tahun lebih menjadi kesatria Golkar dan kesatria Wapres SBY, karena ternyata Aru Palakka juga menjadi kesatria Batavia selam 4 tahun lebih.
Akankah JK pulang kampung dengan sejumlah kisah manis kemenangan, mengulang kisah pulang kampung Aru Palakka, kita tunggu tanggal mainnya Pilpres 8 Juni 2009. Yang jelas kisah pencapresan JK telah membuat peta politk Batavia semakin memanas, hampir persis sama kisah kedatangan Aru Palakka di Batavia telah menggerahkan dunia persilatan di masa itu.
Sumber: ichwankalimasada.wordpress.com dan kompasiana.com

NASIONAL

NEWS


PEMILUKADA

OTONOMI DAERAH

SOSBUD


PILGUB

BONE NEWS

BIROKRASI

OPINI


LAW END CRIME