Menghimpun Lalu Mengabarkan Untuk Bone yang Lebih Baik

Jumat, 15 Januari 2010

Jusuf Kalla dan Arung Palakka Jagoan Batavia



Tulisan ini akan menampilkan dua PutraBone yang sepak terjangnya telah tercatat dalam tinta emas sejarah nusantara Indonesia. Satu mewakili era sebelum kemerdekaan dan yang satunya mewakili paska kemedekaan
Arung Palakka (15 September 1634-)
Pada 15 September 1634 di Kerajaan Bone di desa Palakka lahirnya seorg pemuda yg kemudian terkenal sebagai Raja Bone Arung palakka. Dan di Makassar 12 januari 1631 Sultan Hasanuddin juga lahir. pada masa ini situasi politik lagi genting2nya krn menghadapi agresi portugis yg ingin menaklukkan kerajaan Goa untuk menguasai jalur perdagangan rempah2 yg selama itu pelabuhannya di bawah kekuasaan Raja Goa. dlm menghadapi agresi portugis dan belanda, Raja melakukan koalisi dengan semua kerajaan yg ada, termasuk Kerajaan Bone yg sebelumnya Kerajaan Bone diserang oleh kerajaan Luwuk dan Raja Bone sebagai pemenang.Dan disinilah awal mulanya arung palakka mulai menimbah ilmu bersama sultan hasanuddin. Pada masa2 ini walau aru palakka dan sultan hasanuddin berteman, namun klmpok bangsawan Goa selalu melecehkan keberadaan arung palakka dan teman2nya krn arung palakka denga ketangkasannya menjadi anak kesayangan Raja Goa.
Akhirnya krn tdk tahan dgn perlakuan itu, Arung palakka melakukan pelarian ke Pulau Buton (Sulawesi Tenggara). Krn pelarian itu Raja Gowa melakukan pengejaran sampe ke Buton, dan dgn bersama2 beberapa teman nya, kemudian Aru palakka melakukan pelarian ke jawa dan daerah tujuannya adalah Batavia (jakarta). Atas jasa jendral speelman,VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.
Sejak kedatangan arung, speelman dgn menggunakan keperkasaan arung mulai melakukan invasi dan penanklukan kepada setiap gerakan perlawanan di Batavia, sampai mampu menaklukkan kerajaan minagkabau, merambah NTT dan NTB..sampai menaklukkan Kerajaan Gowa dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin.
Arung Palakka dan Kisah Heroik di Batavia
JAUH sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660, ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.
Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.
Aku menemukan nama Arung Palakka saat membaca sebuah arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Barusan, aku juga membaca sebuah novel yang berisikan data sejarah tentang Batavia di masa silam dengan sejarah kelam yang membuat bulu kuduk bergidik. Selama beberapa hari ini, sejarah Batavia seakan berpusar terus di benakku. Berbagai referensi itu menyimpan sekelumit kisah tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri gagah di tengah Kota Watampone.
Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. Namun, ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian membuncah tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.
Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dan dalam tawanan Makassar. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.
Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat dari hal yang sama yaitu keterasingan. Ketiganya punya sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legenda. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu yang menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.
Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral: di satu sisi hendak membebaskan Bugis, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara. Kisahnya berawal pada tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke situ dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bugis, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.
Sedang Kapiten Jonker punya reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan pada pegawai keturunan VOC keturunan Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukan Nusantara di Barat, Tengah, dan Timur. Mereka punya andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya sebab mereka punya bala tentara yang besar. Di luar ketiganya, ia hanya mengandalkan serdadu bayaran multibangsa dengan loyalitas yang rendah. Akibat kekuasaan yang besar serta penguasaan monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.
Sayangnya, kisah menakjubkan dari tiga jagoan Batavia ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama. Musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac de¢lOrnay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini, berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Ambon ini di Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang. Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu. Kepalanya dipancung dan dipertontonkan. Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.
Sedang Arung Palakka disingkirkan secara halus dengan cara memasung langkahnya untuk tetap menjadi Raja Bone, kemudian kekuasaannya dikontrol dari Benteng Rotterdam. Pria Bugis ini dijauhkan dari hiruk-pikuk politik di Batavia sehingga kehilangan semua kuasa dan pengaruh besarnya di jantung kekuasaan VOC. Ia seakan diasingkan agar tidak lagi membangun networking atau jaringan dengan bala tentaranya di Batavia. Hingga akhirnya Arung Palakka kesunyian dan menjemput ajalnya di bumi Sulawesi. Namun, namanya telah terpatri sebagai jagoan tanpa lawan di tanah Batavia

Jusuf Kallah dengan Pertarungannya di Wilayah Nusantara
Jusuf kalla (JK) adalah wapres RI plus Ketua Golkar, beliau adalah prototipe Bugis Bone, dimana ortunya dan JK sendiri terlahir di tanah Palakka. Persamaan lain, saat ini di Jakarta (Batavia) sejak era Kabinet SBY menjadi jawara kabinet dan tokoh kunci yg memegang peranan sgt besar di dlm koalisinya dgn SBY dan PD meksukseskan pemerintahan SBY, seperti koalisi kerajaan Bone dan Gowa. Selama di kabinet pun nampaknya teman2 JK Golkar selalu merasa dilecehkan oleh orng2 PD yg nota bene SBY. Sampai puncak pelecehan bhw Golkar kali ini hanya mampu meraup 2,5 % suara di pileg, wlu itu tdk terbukti.
Belajar dari kasus Arung Palakka, akankah JK titisan tanah Palakka ini akan melarikan diri dari SBY dan melakukan koalisi dengan partai lain yg lebih besar, yg sebanrnya ini sudah dirintis JK dgn Poros Golkar-PDIP-PPP, jika JK seorng kesatria Arung Palakka, maka itu akan dilakukannya, walau pun Golkar kalah dari pileg, krn hanya dengan dasar kekecewaan dan kekalahanlah yg menjadi tekad bulat untuk keluar sebagai pemenang, seperti kisah Raja Arung Palakka dengan modal kekecewaan dan kekalahan dari Kerajaan Gowa, dia melakukan koalisi dgn kekuatan lain, dan dgn semangat itu Raja Arung Palakka dapt menguasaai Kerajaan Goa dan menjadi pemenang.
Akankah jargon JK “dengan semangat maju, Lebih Cepat Lebih Baik” yg merupakan jargon titisan Raja Arung palakka akan mewarnai diri JK menantang SBY dengan berkoalisi sama partai lain dalam Pilpres 2009 ?????
Jika Ya, artinya memang JK adalah titisan Raja Arung Palakka, jika tidak sesungguhnya JK adalah Jusuf Pribadi, seorang rakyat biasa dari tanah Palakka yg telah bangga hanya sebagai wapres.
Bravo JK Golkar. Vini Vidi Vici, itulah motto Raja Arung Palakka seorang jagoan dari Batavia come back to country meraih kemenangan.
Setting kilas balik sejarah seperti akan terjadi lagi, bagi para penganut ajaran reinkarnasi yang saat ini sudah melebar ke wacana umat Islam seperti banyak dilansir dari buku-buku karya Achmad Chodjim di dalam bukunya, “Makna Kematian” (ulasan pandangan Islam Syech Siti Djenar) dan ” Mistik Sunan Kalijaga”. Hari ini dalam Rapimnasus Partai Golkar melahirkan kesepakatan bulat mengusung JK The Real President sebagi Capres Golkar.
Dengan amanah Golkar, JK nyapres, sebuah langkah awal bagaimana JK akan mengulang sejarah pergulatan Aru Palakka Sang Jagoan Batavia. Aru Palakka pada saat itu di dalam melakukan aksinya, berkoalisi dengan Spelman (Petinggi VOC) sebuah koalisi yang dia lakukan, walau tidak sreg di hatinya, namun langkah itu harus dia lakukan demi cita-citanya meraih kemenangan. Aru Palakka di dalam melaksanakan niatnya tidak jadi soal dia dapat posisi apa, bagi dirinya menjadi kesatria andalan saja sudah cukup untuk menumpas pemberontakan. Ini pun akan terulang pada diri JK, hanya pada kali ini dan untuk pertama kalinya dalam panggung politik, Golkar di bawah tangan dingin JK akan berkoalisi dengan PDIP, walaupun seperti rasa hati Aru Palakka tidak terlalu sreg jika berkoalisi dengan PDIP. Namun untuk meneggakkan konsep “sirri na pacce” Jk, seperti Aru Palakka menegakkan siri-nya, mungkin Jk akan mengambil langkah, koalisi Golkar dan PDIP harus terjadi, walaupun JK mungkin hanya jadi Wapres. Jika hal ini terjadi dan JK jadi pemenang, maka JK akan mengulang sejarah kisah sukses Aru Palakka sebagai jagoan Batavia, sebagai kesatria Batavia. Namun jika kalah dari SBY, Artinya JK juga sudah mengulang kisah jiwa kesatria Aru Palakka, selama 4 tahun lebih menjadi kesatria Golkar dan kesatria Wapres SBY, karena ternyata Aru Palakka juga menjadi kesatria Batavia selam 4 tahun lebih.
Akankah JK pulang kampung dengan sejumlah kisah manis kemenangan, mengulang kisah pulang kampung Aru Palakka, kita tunggu tanggal mainnya Pilpres 8 Juni 2009. Yang jelas kisah pencapresan JK telah membuat peta politk Batavia semakin memanas, hampir persis sama kisah kedatangan Aru Palakka di Batavia telah menggerahkan dunia persilatan di masa itu.
Sumber: ichwankalimasada.wordpress.com dan kompasiana.com

Berita Terkait :

3 komentar:

Sulteng Terkini mengatakan...

Info yang menaik bro, bone is d best

Anonim mengatakan...

bone koe......dgaga djago....
sangkama' sua...

waWan partsHK mengatakan...

B O N E
. . . TARO ADA TARO GAU . . .

Posting Komentar

NASIONAL

PEMILUKADA

OTONOMI DAERAH

SOSBUD

PILGUB

BONE NEWS

BIROKRASI

OPINI

LAW END CRIME