Menghimpun Lalu Mengabarkan Untuk Bone yang Lebih Baik

Senin, 12 Desember 2011

Bone yang Bervisi Global, Renungan Menjelang Pilkada Bone 2013

Oleh :
DR. Amir Mahmud, SE.,M.Si *
 
Pembangunan dan perkembangan Kabupaten Bone dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang ada di Sulawesi Selatan patut dikatakan "agak lambat". Kenyataan ini adalah hal yang sebenarnya patut menjadi perhatian bagi masyarakat Bone, sebab Kabupaten Bone memiliki potensi yang besar, terutama sumber daya manusia berkualitas dan jauh lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Penulis mengatakan demikian sebab memang begitulah yang kita saksikan. Dalam sejarah, Bone dikenal sebagai pen-supply tokoh-tokoh besar di Sulawesi Selatan, terutama tokoh agama. Sampai saat ini hal itu masih kita saksikan.
    Sayangnya, potensi sumber daya manusia Bone yang demikian besar tersebar luas di luar Bone. Menurut pendapat penulis, penyebabnya adalah daerah-daerah di luar Bone memiliki daya tarik yang jauh lebih besar dibandingkan dengan daya tarik Bone sendiri. Walapun kekayaan alam Kabupaten Bone lebih unggul dan lengkap, namun lingkungan sosial di Kabupaten Bone kurang mempunyai daya tarik bagi orang-orang Bone sendiri, mereka lebih memilih untuk berkiprah di luar Kabupaten Bone. Tentu saja kecenderungan ini harus menjadi perhatian pada masa-masa mendatang.
    Dalam pengamatan penulis, pada masa kini dan masa mendatang, setiap daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia menghadapi trend dan tantangan yang sama, yaitu otonomi dan globalisasi. Persoalan ini adalah persoalan seluruh komponen yang ada pada suatu daerah. Jadi, sebenarnya keliru kalau ada anggapan bahwa otonomi daerah adalah persoalan pemerintah kabupaten/kota, atau globalisasi adalah persoalan pengusaha-pengusaha local (domestik). Dalam pandangan penulis, otonomi dan globalisasi merupakan perpaduan yang harmonis antara partisipasi dan kompetisi, dimana keduanya merupakan unsur penting dalam mendorong kemajuan setiap daerah.
    Partisipasi masyarakat ini seharusnya berbasis pada penggalian nilai dan muatan yang ada pada masyarakat itu sendiri. Sebenarnya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari landasan nilai yang dapat dijadikan acuan interaksi pada masa depan, sebab nilai-nilai itu telah ada dalam tataran kultural masyarakat kita sendiri. Sehingga yang perlu kita lakukan hanyalah mengaktualisasikan kembali nilai-nilai itu sesuai dengan konteks kekinian.
    Ada tiga kekuatan kunci yang menurut penulis perlu dikembangkan dan diaktualisasikan kembali oleh masyarakat Bone, dimana kekuatan ini telah ada dalam struktur nilai orang Bone: kreativitas dan inovasi, kepercayaan (trust), dan jaringan (networking). Ketiga kekuatan kunci ini merupakan agenda masa kini dan masa depan yang dibicarakan oleh banyak kalangan, tapi justru kita yang mengabaikannya. Padahal, ketiganya adalah nilai-nilai yang ada dalam struktur masyarakat kita (masyarakat Bone) sejak jaman dahulu.
    Pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif telah dimiliki orang Bone pada masa lalu. Kemajuan daerah-daerah di Sulawesi Selatan banyak mendapat kontribusi dari pemikiran dan gagasan orang-orang Bone dalam membangun daerah bersangkutan. Kecenderungan ini masih dapat kita saksikan sampai hari ini, dimana banyak kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan kepemimpinannya diwarnai oleh orang Bone, dan daerah itu mengalami kemajuan pesat. Ini menunjukkan bahwa orang Bone sebenarnya memiliki potensi untuk berpikir inovatif dan kreatif.
    Faktor kedua adalah kepercayaan (trust), yang dalam agama disebut amanah. Landasan dari kepercayaan adalah kejujuran. Siapa saja yang jujur dalam perkataan dan perbuatannya akan dipercaya oleh orang lain. Apabila kita telah mendapatkan kepercayaan, maka kita bisa melakukan apa saja. Kepercayaan inilah yang menjadi landasan moral dalam sikap dan tingkah laku orang Bone, sehingga mereka diterima dimana-mana.
    Faktor ketiga adalah jaringan (networking), yang dalam agama bisa kita sejajarkan dengan jama'ah. Networking merupakan kekuatan masa depan yang diakui oleh banyak kalangan. Para ahli mengakui bahwa pada masa lalu, sumber kekuasaan dan kekuatan (power) adalah modal (capital). Artinya, siapa yang menguasai modal, maka dia akan mempunyai kekuasaan. Pada masa kini, sumber kekuasaan itu adalah informasi, dimana siapa yang menguasai informasi, maka dialah yang mempunyai kekuasaan. Pada masa depan, diramalkan akan terjadi pergeseran signifikan, dimana sumber kekuasaan adalah luasnya jaringan yang terbentuk dalam suatu sistem interaksi.
    Penulis pernah mengunjungi beberapa negara di dunia, terutama di Negara Asia Tenggara. Di hampir semua tempat tersebut, penulis menemukan bahwa selalu saja ada orang-orang Bugis, atau orang-orang yang jika dirunut akar sejarahnya berasal dari Bugis terutama Bone. Daerah orang-orang Bugis di Singapura terdiri dari sekitar 80% berasal dari Bone. Di Bangkok, Thailand, ada suatu tempat bernama Makasan, yang ternyata berasal dari kata Makassar. Kawasan ini didominasi orang-orang yang secara tradisional berasal dari Bone dan Luwu. Ini semua menunjukkan kemampuan orang Bone dalam membangun jaringan (networking) dalam interaksi sosialnya.
   Ketiga interaksi inilah yang perlu kembali digali dan diaktualisasikan  oleh orang-orang Bone, dalam rangka menghadapi globalisasi. Perlu ada perubahan paradigma yang tegas dalam globalisasi ini. Kabupaten dan kota yang ada di seluruh Indonesia, termasuk Kabupaten Bone, tidak bisa memproyeksikan pembangunan daerahnya dalam frame local atau provinsional. Misalnya, kita sering mendengar kalimat "Kabupaten X harus menjadi pusat pertumbuhan bagi provinsi Y". Visi seperti ini sudah saatnya dihilangkan, sebab dalam globalisasi yang sedang menggaung, setiap daerah tidak hanya akan bersentuhan dengan daerah-daerah lain dalam provinsi tempat daerah itu berada, tetapi akan bersentuhan dengan berbagai unsur dari berbagai belahan dunia. Artinya, visi dan orientasi pembangunan bukan lagi dalam skala lokal, tetapi harus bergeser  menuju skala global. Inilah kondisi aktual yang saat ini dihadapi oleh kabupaten/kota di seluruh dunia.  
    Perlu pula penulis kemukakan bahwa selain tantangan otonomi dan globalisasi, kita juga berada dalam transisi yang kita namakan reformasi. Reformasi sebenarnya merupakan proses perubahan yang berupaya mengikis atau melakukan transformasi terhadap nilai lama yang kurang relevan dengan konteks hari ini. Salah satu nilai di Bone yang menurut penulis perlu kita transformasikan agar relevan dengan konteks kekinian adalah nilai-nilai aristokrasi yang masih sangat kuat. Bukan berarti bahwa aristokrasi itu harus kita hilangkan, sebab suatu nilai itu lahir dari perjalanan panjang peradaban. Yang kita perlukan adalah merelevankan nilai-nilai aristokrasi itu dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Perlu penulis kemukakan bahwa aristokrasi mempunyai kandungan semangat (spirit) yang dapat kita jadikan landasan dalam interaksi kepemimpinan.
    Kepemimpinan, baik dalam konteks aristokrasi maupun konteks modern, seharusnya disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Artinya, kita perlu mengidentifikasi dahulu tujuan dan sasaran yang akan dicapai, kemudian mencari pemimpin yang sesuai dengan tuntutan tersebut. Kalau kita ingin mencapai kemajuan ekonomi, misalnya, maka pemimpin yang mempunyai kemampuan entrepreneur, kalau perlu ia adalah seorang pengusaha. Inilah yang disebut dengan kompetensi kepemimpinan, dimana kita memilih pemimpin yang kompeten dengan tujuan yang akan dicapai.
    Sesuai dengan pertimbangan demikian, maka kepemimpinan daerah seharusnya dibangun dengan semangat team leadership. Mengingat begitu luasnya bidang tugas dari seorang pemimpin daerah, maka perlu ada kombinasi sinergis antara unsur-unsur kepemimpinan itu. Misalnya, jika kita memilih seorang kepala daerah yang mempunyai latar belakang pengusaha, sebaliknya ia disandingkan dengan tokoh birokrat, atau sebaliknya. Dengan kombinasi demikian, maka tujuan yang akan dicapai dapat berjalan bersama-sama dengan tugas-tugas pokok pemerintahan daerah. Kombinasi kepemimpinan tersebut, lebih ideal lagi jika keduanya bervisi global.  


 *Penulis adalah Doktor Ilmu Manajemen, lulusan pertama S3 PPs UMI Makassar,  lahir di Bone, 17 Juli 1965 ( disunting dari tribun-timur.com)

Berita Terkait :

0 komentar:

Posting Komentar

NASIONAL

PEMILUKADA

OTONOMI DAERAH

SOSBUD

PILGUB

BONE NEWS

BIROKRASI

OPINI

LAW END CRIME