Menghimpun Lalu Mengabarkan Untuk Bone yang Lebih Baik

Sabtu, 27 Agustus 2011

Survey Tak Unggulkan Putra Mahkota

Peluang putra dan keluarga bupati/wali kota melanjutkan estafet kepemimpinan di 13 pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sulsel 2013, ternyata belum terlalu diperhitungkan publik.

Karena itu,putra mahkota para kepala daerah tetap harus bekerja keras menghadapi pesaing politiknya di pilkada. Hasil Survei Insert Institut menyebutkan, dari enam daerah yang disebut-sebut bakal diikuti putra mahkota kepala daerah, hanya satu yang berada di posisi paling atas, yakni Ashari F Radjamilo, putra Bupati Jeneponto Radjamilo.

Seperti diberitakan SINDO, kemarin, dari 13 pilkada yang akan digelar,hampir semuanya akan diramaikan putra atau keluarga kepala daerah, khususnya kepala daerah yang tidak bisa lagi mencalonkan diri karena sudah menjabat dua periode.
Selain Jeneponto, lima putra mahkota kepala daerah yang akan maju, yakni anggota DPRD Sulsel Andi Irsan Galigo (putra Bupati Bone Andi Idris Galigo), Ketua DPD II Golkar Takalar Natsir Ibrahim (putra Bupati Takalar Ibrahim Rewa), Herman Katoe (putra Wali Kota Parepare nonaktif Zain Katoe), anggota DPRD Sulsel Adnan Puritcha Ichsan (putra Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo), dan A Seto Gadhistha Asapa (putra Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa).

Namun, putra mahkota di lima daerah masih jauh tertinggal dari pesaingnya. Di Bone, putra Bupati Andi Idris Galigo, Andi Irsan Galigo, masih terpaut jauh dari pesaingnya,yakni Andi Fashar Padjalangi,yang tak lain masih memiliki hubungan keluarga dekat. Fashar meraih dukungan 46%, sedangkan Irsan hanya memiliki dukungan 18,9% dari jumlah 500 responden.
Direktur Insert Muhammad Aris menguraikan, di Takalar, tren dukungan kepada Natsir Ibrahim atau putra Bupati Ibrahim Rewa,tertinggal dari calon lain,terutama Wakil Bupati Andi Makmur A Sadda.

“Hal sama terjadi di daerah lain.Khusus di Sinjai, peluang A Seto Gadhistha Asapa (Putra Rudianto) itu belum kami lihat karena survei sebelumnya nama dia belum dimasukkan. Namun, kemungkinan akan bersaing dengan pamannya bila ingin didukung keluarga,” papar Aris kepada SINDO, kemarin.
Mengenai peluang Adnan Puritcha Ichsan di Makassar, Aris mengaku cukup berat. Selain bakal bersaing lawan tangguh, hasil survei juga masih rendah. Hanya,putra Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo ini bisa diperhitungkan bila maju di posisi wakil wali kota.
“Kalau di posisi wakil, itu lebih menjanjikan. Apalagi, kalau nanti dia didorong keluarga Yasin Limpo. Tetapi, tentu harus bersaing memperebutkan itu dari keluarganya,seperti Haris Yasin Limpo (Ketua Harian DPD II Golkar Makassar),” papar Aris.

Namun, peluang melanjutkan tahta kepemimpinan masih terbuka, terutama bila kinerja keluarganya selama ini tergolong bagus dan diterima masyarakat. “Sepanjang keluarga solid dan kinerja kepala daerah yang mau diteruskan itu baik, saya kira berpeluang. Tinggal diolah dengan baik dan menjaga simpul-simpul suara yang selama ini menjadi basis keluarganya,” ujarnya.
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Adi Suryadi Culla saat dimintai tanggapan, mengakui politik dinasti di Sulsel, bukan kali ini terjadi, melainkan sudah menjadi kultur di kalangan pemimpin dan masyarakat itu.

Menurut dia,politik dinasti tidak perlu dipermasalahkan sepanjang calon yang disiapkan melanjutkan kepemimpinan, punya kemampuan yang memadai, serta memiliki track record bagus.
“Politik dinasti ini bukan hanya di Indonesia. Di negaranegara maju, itu terjadi juga, misalnya beberapa presiden di Amerika Serikat. Jadi memang, ada kecenderungan pemimpin menyiapkan calon penerus ditambah masyarakat bisa menerimanya,”papar dia.

Hanya, dia menyarankan masyarakat tetap harus selektif memilih di pilkada.Terpilih atau tidaknya para keluarga mahkota itu, tetap ditentukan rakyat. Apalagi, yang akan merasakan kepemimpinan lima tahun ke depan adalah rakyat. “Selanjutnya rekrutmen partai politik yang menjadi masalah selama ini, sudah harus diperbaiki di semua tingkatan,” tandasnya.
Manajer Strategi Pemenangan Indonesia Timur Jaringan Suara Indonesia (JSI) Irfan Jaya menganggap peluang putra mahkota punya nilai bargaining tersendiri, khususnya yang memiliki kemampuan menjadi pemimpin.

Di setiap perhelatan politik,termasuk di Sulsel, putra atau keluarga mahkota tidak boleh dihukum secara politis bila ingin maju mencalonkan diri.
“Saya ilustrasikan, jika seorang anak terlahir sebagai anak seorang pemimpin dan si anak itu memiliki kemampuan dan kecerdasan menjadi pemimpin serta bisa membawa masyarakat menjadi sejahtera, tidak perlu dirisaukan,”ujarnya.

Berita Terkait :

0 komentar:

Posting Komentar

NASIONAL

PEMILUKADA

OTONOMI DAERAH

SOSBUD

PILGUB

BONE NEWS

BIROKRASI

OPINI

LAW END CRIME