Menghimpun Lalu Mengabarkan Untuk Bone yang Lebih Baik

Sabtu, 27 Agustus 2011

KMP Windu Karsa Tenggelam di Teluk Bone, Wakil Bupati Dipastikan Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Windu Karsa tenggelam di perairan Teluk Bone dekat Pulau Lambasina. Kapal tersebut tenggelam saat dalam pelayaran dari Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuju ke Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Kapal yang dinakhodai oleh Muhammad Rizal membawa Anak Buah Kapal (ABK) sebanyak 19 orang. Berangkat dari Pelabuhan Bone pada pukul 14.25 WITA dan diperkirakan karam sekira 10 mil dari Dermaga Pulau Kolaka. Peristiwa nahas itu diperkirakan terjadi pukul 00.05 WITA.

KMP Windu Karsa merupakan kapal milik PT Bukaka Lintas Tama, yang diketahui merupakan salah satu anak perusahaan dari Kalla Group milik mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Dalam pelayaran Bone-Kolaka, KMP Windu Karsa mengangkut 97 penumpang dan awak kapal serta 20 unit mobil dan 5 sepeda motor.

Saat dihubungi, Syahbandar Pelabuhan Bajoe, Andi Abbas, menyebut dugaan sementara dari peristiwa tenggelamnya KMP Windu Karsa akibat cuaca buruk.
Abbas mengatakan, kondisi di perairan sepekan terakhir memang diwarnai angin kencang disertai hujan deras.

Sedangan menurut Syahbandar Pelabuhan Kolaka, Hasanuddin, manifes pelayaran KMP Windu Karsa hanya mendaftarkan sebanyak 51 penumpang.

Kondisi terakhir yang dihimpun media ini , sebanyak 4 tim penyelamat diterjunkan ke laut.

Wakil Bupati Kolaka Utara Selamat
Wakil Bupati Kolaka Utara Siti Suheriyah bersama anaknya, Ifa, yang menjadi penumpang kapal tenggelam KMP Windu Karsa, ditemukan selamat.

Menurut Informasi, Suti Suheriah dan Ifa, beserta 92 korban selamat lainnya sudah dievakuasi ke RS Kolaka pada Sabtu (27/8/2011) pagi ini.

Sementara korban tewas teridentifikasi bernama Anwar Muchtar dan Dinah. Identitas lebih lengkap belum diketahui. Data dari Syahbandar jumlah penumpang dan kru sebanyak 95

Akibat musibah ini, Syahbandar Pelabuhan Kolaka Andi Abbas, memastikan penyeberangan dari Bone ke Kolaka, Sulawesi Selatan, dan sebaliknya terganggu. Pasalnya, kapal yang digunakan untuk mengangkut penumpang hanya satu.

Seharusnya kapal yang beroperasi per hari ada tujuh unit, namun enam kapal digunakan untuk membantu pencarian korban.

Berita Terkait :

0 komentar:

Posting Komentar

NASIONAL

PEMILUKADA

OTONOMI DAERAH

SOSBUD

PILGUB

BONE NEWS

BIROKRASI

OPINI

LAW END CRIME